Gedung GRAHA SETI, Lt. 3
Jl. K.H. Abdullah Syafe’I, Kav. A.19,
Tebet, Jakarta Selatan 12830
WA Contact:
Widya Victoria +6287889503663
M. Hidayat +6287780555941,
Rahmat Abbas +62811889836
Dwi Bahari A +6281213366768 / +628161975104
E-mail: mountaineeringfed.indonesia@gmail.com, fmi.pengurusbesar@gmail.com

Begini Pesan Ganjar Pranowo Untuk Kamu yang Suka Mendaki Gunung

Begini Pesan Ganjar Pranowo Untuk Kamu yang Suka Mendaki Gunung
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat memberikan pesan-pesannya untuk para pendaki gunung, pada Federasi Mountaineering Indonesia, Minggu (13/9/2020). Foto: Harley Sastha

Data, gunung mana saja yang paling sering didaki. Kan banyak sekarang anak-anak di pecinta alam yang masih tingkat SMA, mulai pada naik gunung yang pendek-pendek. Dimana, ternyata, untuk mereka dan pendaki-pendaki pemula, gunung-gunung yang pendek, seperti: Ungaran, Prau, Andong dan lain sebagainya, itu menarik. Walaupun, tingkat bahayanya juga sama saja sebenarnya, sayangnya, sebagian dari mereka kurang akan persiapan dan kesiapannya. Sehingga, tidak sedikit yang akhirnya menimbulkan kecelakaan atau tersesat. 

Demikian dikatakan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, saat menyatakan kesediannya sebagai Pembina Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), beberapa waktu lalu, kepada beberapa orang perwakilan FMI yang dimpimpin oleh Ketua Harian FMI Rahmat Abbas, pada Minggu (13/9/2020) di Puri Gedeh – Rumah Dina Gubernur Jateng – di Semarang, Jawa Tengah.
“Untuk dapat mengurus gunung-gunung se-Indonesia, sebagai salah satu bentuk kontribusinya, kita harus sudah mempunyai panduan dan aturannya. Dalam prikiran saya, para Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), harus melek teknologi. Misalnya, manfaatkan smarphone untuk mengumpulkan informasi dari daerah-daerah, kemudian digitalisasi. Misalnya, kumpulkan data gunung-gunung yang sering didaki di Jawa Tengah. Lalu, titik-titik pendakiannya. Kemudian, para pengelola atau penguasa-penguasa kawasannya. Seperti: balai taman nasional, balai konservasi sumber daya alam, desa, masyarakat, perhutani dan lainnya,” kata gubernur yang akrab dipanggil mas Ganjar.
Setelah itu, akan muncul permasalahan-permasalahan dalam pengelolaanya itu apa saja. Sehingga, nanti kita akan menata secara bersama-sama aturan dan pengelolaanya. Baik itu dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, maupun Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif.
Jadi, sambil menunggu regulasi, kita tetap sudah dapat berjalan dulu. Kita dapat minta update dan informasinya. Misalnya, gunung mana saja yang sudah dibuka, bagaimana kondisinya dan pro aktif untuk mengumpulkan data jumlah pendakinya. Berapa perbandingan pendaki wanita dan pria, tingkat usianya dan lain-lain.
Begini Pesan Ganjar Pranowo Untuk Kamu yang Suka Mendaki Gunung (1)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat memberikan pesan-pesannya untuk para pendaki gunung, pada Federasi Mountaineering Indonesia, Minggu (13/9/2020). Foto: Harley Sastha
Kalau data dan informasi tersebut sudah dapat dihimpun, kita akan mempunyai big data pendakian gunung. Kemudian, dengan bantuan teman-teman mahasiswa pencinta alam yang memahami teknologi, untuk menganalisis data-data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan Artificial Inteligent (AI). Jadi, nanti akan ketahuan perkembangan tren pendakian. Termasuk ada korban atau tidak dalam aktivitas pendakian tersebut dan persiapan serta penyebabnya bagaimana.
“Memang tidak mudah, mungkin lebih sulit dari pada yang saya bicarakan. Tetapi, kalau dapat melakukannya, kita dapat meminimasir kecelakaan-kecelakaan tersebut. Bisa dimulai ddengan melakukan studi kasus pada kasus-kasus kecelakaan pada gunung yang terlah terjadi. Misalnya seperti di gunung Lawu, Merbabu, Sumbing dan lainnya,” kata gubernur yang semasa kuliahnya dulu pernah menjabat Ketua Majestic-55 Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Menurutnya, FMI harus dapat mewujudkan dan memasyarakatkan aktivitas mountaineering Indonesia yang bertanggung jawab demi terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Hal ini dilakukan melalui kegiatan sains dan teknologi, pelatihan, konservasi, ekowisata, olahraga dan petualangan. Sehingga, pendaki gunung kita akan memiliki nilai tambah yang baik.
Pendaki perlu juga dibuat ekstrakurikiuler. Misalnya, bertemu dengan Badan Geologi dan BMKG. Sehingga, kita dapat mengetahui, kalau gunung dan pegunungan ternyata mempunyai siklus yang menarik. Diantaranya, bagaimana siklus letusannya dan lainnya. Seperti, gunung Merapi yang diawasi dari berbagai sudur dengan bermacam tekenologi, sejak jaman Belanda hingga saat ini.
“Dengan begitu, kedepan pendaki gunung dapat mengatakan, kami ini pendaki. Ketahuilah, kalau ingin mengetahui tentang gunung a, b, c dan d, kamu dapat tanya pada kami. Jadi, dengan begitu, pendaki akan semakin terlihat value atau nilai tambahnya,” imbuh mas Ganjar.
Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) Pengelolaan Pendakian Gunung 8748:2019, harus segera diterapkan secara menyeluruh dalam pengelolaan pendakian gunung Jawa Tengah.”
“Pertama, edukasi tidak dapat dipungkiri. Kemudian harus ada penataan. Lalu, begitu terlihat antusias masyarakat tinggi, maka harus ada regulasi. Berikutnya, setelah semua berjalan, harus patuh dan ikut aturan. Karena, pada masa sekarang, pengunjung memiliki perilaku yang berbeda-beda. Diatur, bukan artinya mempersulit, tetapi, justru agar dapat lebih gampang. Menjadi lebih aman dan dapat terjaga kelestarian alamnya,” imbuh mas Ganjar.
Begini Pesan Ganjar Pranowo Untuk Kamu yang Suka Mendaki Gunung (2)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat berfoto bersama dengan perwakilan FMI,, Minggu (13/9/2020). Foto: Harley Sastha
Pendaki perlu juga mendapatkan beberapa ekstrakurikuler. Misalnya, bertemu dengan Badan Geologi dan BMKG. Sehingga, kita dapat mengetahui, kalau gunung dan pegunungan ternyata mempunyai siklus yang menarik. Diantaranya, bagaimana siklus letusannya dan lainnya. Seperti, gunung Merapi yang diawasi dari berbagai sudur dengan bermacam tekenologi, sejak jaman Belanda hingga saat ini.
“Dengan begitu, kedepan pendaki gunung dapat mengatakan, kami ini pendaki. Jadi, ketahuilah, kalau ingin mengetahui tentang gunung a, b, c dan d, kamu dapat tanya pada kami.
Berkaitan dengan aktivitas pendakian gunung yang sebagian sudah dibuka kembali pada masa pandemi COVID-19, Ganjar Pranowo meminta protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah tetap dipatuhi dengan disiplin.
“COVID-19 itu, tidak peduli di gunung atau di mana pun. Termasuk saat mendaki gunung. Kalau, kamu ketemua orang atau ada kerumunan, pasti itu ada potensi terpapar. Lebih baik hindari. Jadi, kalau kamu tidak siap, lebih baik di rumah saja, jangan mendaki gunung dulu. Tunggu sampai pandemi Covid selesai. Tetapi, kalau memang mau mendaki, ikuti ketentuan dan aturannya. Pastikan, memang sudah dibuka atau belum. Ingat, jangan bergerombol, tidak ramai-ramai. Manage dengan baik, berhati-hati dan sabar,” pesan mas Ganjar, mengakhiri pembicaraan.()

Tulisan asli dimuat di:
https://kumparan.com/harley-b-sastha/begini-pesan-ganjar-pranowo-untuk-kamu-yang-suka-mendaki-gunung-1uILrISBqgv/full

Daftar Pengurus Provinsi FMI
















Berikut daftar Pengurus Provinsi Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) sampai dengan September 2020.

Pengurus Provinsi Aceh

Pengurus Provinsi Sumatra Utara

Pengurus Provinsi Jambi

Pengurus Provinsi Bengkulu

Pengurus Provinsi Sumatra Selatan

Pengurus Provinsi Banten

Pengurus Provinsi DKI Jakarta

Pengurus Provinsi Jawa Tengah

Pengurus Provinsi Kalimantan Barat

Pengurus Provinsi Kalimantan Selatan

Pengurus Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pengurus Provinsi Sulawesi Selatan

Pengurus Provinsi Sulawesi Tengah

Pengurus Provinsi Gorontalo

Pengurus Provinsi Sulawesi Utara

Pengurus Provinsi Maluku

Pengurus Provinsi Papua


(2020)






 

Jadi Pembina FMI, Ini Pesan Ganjar Pranowo Buat Pendaki Gunung Indonesia

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo foto bersama delegasi PB FMI dan Pengurus Provinsi FMI Jawa Tengah di kediaman dinas Gubernur Jateng, Semarang, Minggu (13/9/2020) (Humas PB FMI)

INDOSINPO – Setelah melalui tahapan persiapan selama beberapa minggu, Pengurus Provinsi Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) Jawa Tengah akhirnya resmi terbentuk. Jateng merupakan provinsi ke-17 dalam struktur kepengurusan FMI dengan Satria Bagus Utama sebagai ketuanya.

Prosesi pelantikan sekaligus pengukuhan Pengprov FMI Jateng berjalan penuh khidmat dan lancar pada Minggu (13/9/2020). Ketua Harian PB FMI, Rahmat Abbas hadir mewakili Ketua Umum Mayjen TNI Mar (Purn.) Buyung Lalana, sekaligus memimpin prosesi itu.

Dalam amanatnya melalui Ketua Harian, Ketum Buyung Lalana menyampaikan, dengan terbentuknya Pengprov FMI Jawa Tengah diharapkan pendaki gunung di wilayah setempat terus berperan nyata di dunia mountaineering sehingga bisa berkembang menjadi wahana dan saluran generasi muda untuk berkiprah bagi kemajuan bangsa.

“Pendaki gunung harus dapat tampil melalui kegiatan mountaineering yang bertanggung jawab. Dapat terus berkontribusi dalam konservasi kawasan gunung dan pegunungan sebagai kawasan penyangga kehidupan, sehingga dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang,” ujar Ketua Umum.

Mantan Komandan Korps Marinir itu juga berpesan agar Pengprov FMI Jateng senantiasa bersinergi dengan semua jajaran dan kalangan terkait aktivitas pendakian gunung.

Ketua Harian PB Federasi Mountaineering Indonesia (PB FMI) Rahmat Abbas saat memimpin prosesi pelantikan sekaligus pengukuhan Pengprov FMI Jawa Tengah di Semarang, Minggu (13/9/2020). (Humas PB FMI)

Dalam lawatannya ke Jawa Tengah, Rahmat Abbas bersama delegasi PB FMI lainnya berkesempatan untuk beraudiensi sekaligus bersilaturahim dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dalam kesempatan itu, FMI menyampaikan perkembangan aktivitas mountaineering di Indonesia, khususnya di wilayah Jateng. Pertemuan berjalan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan untuk pencegahan penyebaran COVID-19.

Ganjar menyambut baik kehadiran Pengprov FMI Jateng dan siap mendukung organisasi yang tercetus 28 Agustus 2005 itu mengembangkan aktivitas dunia mountaineering di Tanah Air.

“FMI mempunyai visi dan misi mewujudkan dan memasyarakatkan aktivitas mountaineering Indonesia yang bertanggung jawab demi terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Hal ini dilakukan melalui kegiatan sains dan teknologi, pelatihan, konservasi, ekowisata, olahraga dan petualangan. Sehingga, pendaki gunung kita akan memiliki nilai tambah yang baik,” kata Ganjar yang pernah menjabat ketua Majestic-55 Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Mas Ganjar, begitu mantan anggota DPR ini akrab disapa oleh kalangan pegiat alam, juga menyampaikan kesediaannya untuk menjadi Pembina FMI.

Ia pun berpesan agar Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) Pengelolaan Pendakian Gunung 8748:2019, segera diterapkan secara menyeluruh dalam pengelolaan pendakian gunung Jawa Tengah.

“Pertama, edukasi tidak dapat dipungkiri, kemudian harus ada penataan. Lalu, begitu terlihat antusias masyarakat tinggi, maka harus ada regulasi. Berikutnya, setelah semua berjalan, harus patuh dan ikut aturan. Karena, pada masa sekarang, pengunjung memiliki perilaku yang berbeda-beda. Diatur, bukan artinya mempersulit, tetapi, justru agar dapat lebih gampang. Menjadi lebih aman dan dapat terjaga kelestarian alamnya,” tuturnya.

Berkaitan dengan aktivitas pendakian gunung yang sebagian sudah dibuka kembali pada masa pandemi COVID-19, Ganjar meminta protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah tetap dipatuhi dengan disiplin.

“COVID-19 itu, tidak peduli di gunung atau di mana pun. Termasuk saat mendaki gunung. Kalau, kamu ketemua orang atau ada kerumunan, pasti itu ada potensi terpapar. Lebih baik hindari. Jadi, kalau kamu tidak siap, lebih baik di rumah saja, jangan mendaki gunung dulu. Tunggu sampai pandemi Covid selesai. Tetapi, kalau memang mau mendaki, ikuti ketentuan dan aturannya. Pastikan, memang sudah dibuka atau belum. Ingat, jangan bergerombol, tidak ramai-ramai. Manage dengan baik, berhati-hati dan sabar,” pesan mas Ganjar.

Link asli berita: https://indosinpo.com/2020/09/14/jadi-pembina-fmi-ini-pesan-ganjar-pranowo-buat-pendaki-gunung-indonesia/


FMI dan APGI Jalin Kerjasama

dok Humas FMI

Ketua Umum Pengurus Besar FMI, Mayjen TNI Mar (Pur) Buyung Lalana, S.E dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia Cecilia Enny Yashita A, menandatangani nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) tentang pengembangan kegiatan pendakian gunung, kepemanduan dan wisata pendakian gunung dan pegunungan di Indonesia. Acara pendandatanganan bertempat di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (10/9/2020) malam.

Dengan penandatanganan kesepahaman ini, dimulailah babak baru sinergi antara FMI dan APGI untuk menciptakan dunia pendakian dan petualangan di Indonesia yang aman, nyaman dan bertanggungjawab.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PB FMI mengatakan, bahwa Kerjasama ini merupakan kesempatan bagi FMI untuk dapat menjadi lebih besar. “Harapannya, FMI dan APGI akan menjadi sebuah sinergi yang mampu dirasakan manfaatnya bagi pencinta dan pemerhati gunung, serta menciptakan potensi kegiatan yang lebih besar dikemudian hari. Serta, ini menjadi babak baru bagi kedua belah pihak untuk dapat mendorong kegiatan pendakian gunung sebagai hobi dan profesi ke arah yang lebih positif.”

dok Humas FMIdok humas fmi

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum APGI menambahkan, bahwa kedua organisasi mempunyai kegiatan yang dekat dan saling membutuhkan. “Dengan MoU ini, dapat terbentuk ikatan kekeluargaan yang lebih besar lagi antara FMI dan APGI. Harapannya, akan terbuka wawasan yang lebih luas dan menciptakan individu-individu yang lebih unggul, sehingga dunia pendakian yang aman, nyaman dan bertanggungjawab bisa diwujudkan bersama.”

Dalam MoU tersebut,dibahas hal-hal penting terkait dunia pendakian dan kepemanduan. Beberapa hal yang menjadi sorotan utama meliputi, peningkatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia, pengembangan kegiatan pendakian gunung, kepemanduan gunung dan wisata pendakian gunung, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan gunung dan pegunungan, serta sosialisasi dan pengembangan media informasi gunung dan pegunungan.

Ketua Harian FMI  Rahmat Abbas, dalam keterangannya menyampaikan bahwa, FMI dan APGI merupakan dua organiasi yang mempunyai banyak kesamaan. “Oleh karenanya, menjadi lebih baik jika FMI dan APGI bersama-sama membangun dunia mountaineering yang lebih maju dan lebih memasyarakat.”

dok Humas FMIFMI merupakan wadah nasional pendaki gunung di Indonesia yang memiliki visi untuk memasyarakatkan dan mewujudkan aktifitas mountaineering Indonesia yang professional demi terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa melalui kegiatan sains dan teknologi, konservasi, ekowisata, olahraga  dan petualangan.

APGI merupakan wadah nasional organisasi profesi pemandu gunung di Indonesia yang memiliki visi untuk menjadikan pemandu gunung di Indonesia sebagai pekerjaan professional serta memiliki standar kompetensi tingkat nasional maupun internasional. (bm/0920)









Materi Webinar Majestic Tambora


Pada 28 Agustus 2020, Federasi Mountaineering Indonesia, menyelenggarakan Webinar bertajuk Majestic Tambora. Webinar diselengarakan dalam rangkaian peringatan ulang tahun FMI ke-15. 

Lebih dari 100 orang menjadi partisipan dalam seminar online tersebut. Untuk Mountaineers yang ketinggalan acara, materi webinar bisa di unduh pada tautan di sini.